
loading…
Kontroversi bermula setelah Gianni Infantino mendapat kritik luas akibat rencana membentuk perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprises (FFE). Melalui skema itu, FIFA berencana menjual sebagian kepemilikan bisnis Piala Dunia kepada investor swasta. Gelombang penolakan dari berbagai konfederasi dan federasi sepak bola akhirnya memaksa Infantino membatalkan rencana tersebut.
Di tengah polemik tersebut, Federasi Palestina menyampaikan sikap tegas. Mereka menilai perdebatan mengenai transparansi dan tata kelola FIFA menjadi momentum penting bagi organisasi sepak bola dunia untuk kembali mengedepankan prinsip dibanding kepentingan politik maupun bisnis.
Dalam pernyataannya, PFA mengungkapkan bahwa mereka telah dua kali memberikan dukungan kepada kepemimpinan Infantino sejak 2015 dengan harapan FIFA akan menerapkan statuta secara konsisten dan memperlakukan seluruh anggota secara setara. Namun, menurut mereka, harapan itu belum terwujud.
Federasi Palestina juga menyoroti dampak konflik di Gaza terhadap dunia sepak bola di wilayah tersebut. Mereka mengklaim lebih dari 1.013 pesepak bola, pelatih, wasit, ofisial, dan anggota komunitas sepak bola Palestina telah meninggal dunia, sementara stadion, lapangan latihan, dan berbagai fasilitas olahraga mengalami kerusakan. Kompetisi domestik pun terhenti dan tim nasional Palestina disebut tidak dapat memainkan laga kandang seperti mayoritas anggota FIFA lainnya.
